Siapa yang tidak kenal dengan Tana Toraja, negeri yang begitu banyak adat istiadat dan tempat tujuan wisata yang indah. Tana Toraja berjarak 300 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan, menyimpan berbagai macam adat dan budaya leluhur yang diwariskan oleh nenek moyang mereka dan tetap lestari hingga kini.
Sistem kepercayaan tradisional suku Toraja adalah kepercayaan
anisme politeistik yang disebut aluk, atau "jalan" (kadang
diterjemahkan sebagai "hukum"). Dalam mitos Toraja, leluhur orang
Toraja datang dari surga dengan menggunakan tangga yang kemudian digunakan oleh
suku Toraja sebagai cara berhubungan dengan Puang Matua, dewa pencipta.
Alam semesta, menurut aluk, dibagi menjadi dunia atas (Surga) dunia
manusia (Bumi), dan dunia bawah. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan
menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncil cahaya. Hewan tinggal di
dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang
dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia dan surga
terletak di atas, ditutupi dengan atap berbentuk pelana. Dewa - dewa Toraja
lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo'
Ongon-ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo'
Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.
Kekuasaan di bumi yang kata - kata dan tindakannya harus dipegang
baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman disebut to
minaa (seorang pendeta aluk). Aluk bukan hanya
sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan
kebiasaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, prektik
pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara
satu desa dengan desa yang lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa
ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan. Suku Toraja percaya bahwa
ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan
ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya.
Setiap keturunan suku Toraja, dimanapun berada, wajib menjunjung tinggi akar budaya nenek moyang mereka. Hingga kini , anak cucu keturunan suku Tana Toraja yang berada di luar negeri dan berbagai wilayah di Indonesia, akan tetap melakukan tradisi yang sama yang dilakukan oleh nenek moyang mereka ribuan tahun yang lalu.
Ketaatan mereka dalam menjalankan ada istiadat dan budaya peninggalan nenek moyang mereka hingga kini, menarik banyak wisatawan asing dan dalam negri untuk mengunjungi Tana Toraja setiap tahunnya. Tana Toraja, kini menjadi salah satu daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Sulawesi Selatan. Berbagai upacara adat yang dimiliki oleh Tana Toraja dan diselenggarakan setiap tahunnya, menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan asing.
Setiap keturunan suku Toraja, dimanapun berada, wajib menjunjung tinggi akar budaya nenek moyang mereka. Hingga kini , anak cucu keturunan suku Tana Toraja yang berada di luar negeri dan berbagai wilayah di Indonesia, akan tetap melakukan tradisi yang sama yang dilakukan oleh nenek moyang mereka ribuan tahun yang lalu.
Ketaatan mereka dalam menjalankan ada istiadat dan budaya peninggalan nenek moyang mereka hingga kini, menarik banyak wisatawan asing dan dalam negri untuk mengunjungi Tana Toraja setiap tahunnya. Tana Toraja, kini menjadi salah satu daerah wisata andalan yang dimiliki oleh Sulawesi Selatan. Berbagai upacara adat yang dimiliki oleh Tana Toraja dan diselenggarakan setiap tahunnya, menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan asing.
Ada berbagai upacara adat di Tana Toraja, salah satunya adalah
Rambu Solo'. Rambu Solo' adalah upacara adat kematian masyarakat Tana Toraja
yang bertujuan untuk menghormati dan mengantarkan arwah orang yang meninggal
dunia menuju alam roh, yaitu kembali kepada keabadian bersama para leluhur
mereka di sebuah tempat peristirahatan, disebut dengan Puya, yang terletak di
bagian selatan tempat tinggal manusia. Upacara ini sering juga disebut upacara
penyempurnaan kematian. Dikatakan demikian, karena orang yang meninggal baru
dianggap benar-benar meninggal setelah seluruh prosesi upacara ini digenapi.
Jika belum, maka orang yang meninggal tersebut hanya dianggap sebagai orang
“sakit” atau “lemah”, sehingga ia tetap diperlakukan seperti halnya orang
hidup, yaitu dibaringkan di tempat tidur dan diberi hidangan makanan dan
minuman, bahkan selalu diajak berbicara.
Oleh karena itu, masyarakat setempat menganggap upacara ini sangat
penting, karena kesempurnaan upacara ini akan menentukan posisi arwah orang
yang meninggal tersebut, apakah sebagai arwah gentayangan (bombo), arwah yang
mencapai tingkat dewa (to-membali puang), atau menjadi dewa pelindung (deata).
Dalam konteks ini, upacara Rambu Solo menjadi sebuah “kewajiban”, sehingga
dengan cara apapun masyarakat Tana Toraja akan mengadakannnya sebagai bentuk
pengabdian kepada orang tua mereka yang meninggal dunia.
Kemeriahan upacara Rambu Solo ditentukan oleh status sosial
keluarga yang meninggal, diukur dari jumlah hewan yang dikorbankan. Semakin
banyak kerbau disembelih, semakin tinggi status sosialnya. Biasanya, untuk
keluarga bangsawan, jumlah kerbau yang disembelih berkisar antara 24-100 ekor,
sedangkan warga golongan menengah berkisar 8 ekor kerbau ditambah 50 ekor babi.
Dulu, upacara ini hanya mampu dilaksanakan oleh keluarga bangsawan. Namun
seiring dengan perkembangan ekonomi, strata sosial tidak lagi berdasarkan pada
keturunan atau kedudukan, melainkan berdasarkan tingkat pendidikan dan
kemampanan ekonomi. Saat ini, sudah banyak masyarakat Toraja dari strata sosial
rakyat biasa menjadi hartawan, sehingga mampu menggelar upacara ini.
Puncak
dari upacara Rambu Solo disebut dengan upacara Rante yang dilaksanakan di
sebuah “lapangan khusus”. Dalam upacara Rante ini terdapat beberapa rangkaian
ritual yang selalu menarik perhatian para pengunjung, seperti proses pembungkusan
jenazah (ma‘tudan, mebalun), pembubuhan ornamen dari benang emas dan perak pada
peti jenazah (ma‘roto), penurunan jenazah ke lumbung untuk disemayamkan
(ma‘popengkalo alang), dan proses pengusungan jenazah ke tempat peristirahatan
terakhir (ma‘palao).
Selain itu, juga terdapat berbagai atrakasi budaya yang
dipertontonkan, di antaranya: adu kerbau (mappasilaga tedong), kerbau-kerbau
yang akan dikorbankan diadu terlebih dahulu sebelum disembelih; dan adu kaki
(sisemba). Dalam upacara tersebut juga dipentaskan beberapa musik,
sepertipa‘pompan, pa‘dali-dali dan unnosong; serta beberapa tarian, seperti
pa‘badong, pa‘dondi, pa‘randing, pa‘katia, pa‘papanggan, passailo dan
pa‘pasilaga tedong.
Menariknya lagi, kerbau disembelih dengan cara yang
sangat unik dan merupakan ciri khas mayarakat Tana Toraja, yaitu menebas leher
kerbau hanya dengan sekali tebasan. Jenis kerbau yang disembelih pun bukan
kerbau biasa, tetapi kerbau bule (tedong bonga) yang harganya berkisar antara
10–50 juta perekor. Selain itu, juga terdapat pemandangan yang sangat
menakjubkan, yaitu ketika iring-iringan para pelayat yang sedang mengantarkan
jenazah menuju Puya, dari kejauhan tampak kain merah panjang bagaikan selendang
raksasa membentang di antara pelayat tersebut.
Rambu Solo’ mencerminkan kehidupan
masyarakat Tana Toraja yang suka gotong-royong, tolong-menolong, kekeluargaan,
memiliki strata sosial, dan menghormati orang tua. Mengenai adu kerbau, ia
mengakui di satu sisi menjadi daya tarik pariwisata, namun di sisi lain
banyaknya kerbau, terutama kerbau bule (Tedong Bonga), yang dipotong akan
mempercepat punahnya kerbau. Apalagi, konon Tedong Bonga termasuk kelompok
kerbau lumpur (Bubalus bubalis) yang merupakan spesies yang hanya terdapat di
Toraja





00.41
Apman Mustafa



0 komentar:
Posting Komentar